Mengapa Minat Guru Peneliti Rendah
Kembali lagi, para guru dan dosen di Indonesia mendapat masalah. Setelah sebelumnya guru harus melalui proses sertifikasi untuk mendapatkan tunjangan pengajar dan memenuhi persyaratan mengajar selama 16 jam seminggu untuk mendapatkan tambahan insentif lainnya, kini para (berlagak) pakar pendidikan berwacana agar para guru di sekolah umum di Indonesia melakukan penelitian untuk meningkatkan mutu dan profesionalisme mereka. Tidak kurang dari Menteri DikNas, Ketua Pengurus Harian PGRI, Rektor UI, dan konsultan Putera Sampoerna School of Education menyatakan dukungan hal mereka pada hal ini. Sekilas hal ini terdengar sebagai suatu hal yang bagus namun itu justru menunjukan jelas kedangkalan berpikir dari orang-orang yang mengusulkan hal tersebut lantaran mereka belum pernah atau lupa akan kenyataan yang dihadapi oleh para guru sekolah umum di medan kerja mereka. Seperti biasa, para pemerhati pendidikan yang berkediaman di menara gading ini lebih sukan menempuh jalan pintas untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Permasalah yang paling utama saja belum selesai, masih sok-sok-an dengan proyek ambisius yang lain. Setelah Ujian Nasiona (UN) dan program sertifikasi guru, kini tugas penelitian akan dibebankan lagi pada guru. Akan tetapi, tugas penelitian sulit diterapkan pada guru sekolah umum--SD, SMP, SMU--karena besarnya tuntutan pekerjaan di sekolah, kurangnya fasilitas penelitian yang dapat dipakai, dan kecilnya tunjangan gaji yang diterima oleh guru-guru sekolah umum.
Permasalahan
Banyaknya dan ketatnya tuntutan yang dihadapi para guru dalam bertugas di sekolah membuat kesempatan melakukan penelitian menjadi sangat kecil. Lihat saja kondisi kelas-kelas yang ada di sekolah pada umumnya. Satu kelas terdiri oleh 30-40 murid. Melihat kondisi ini saja sudah bisa dibayangkan seperti apa besarnya tekanan mental yang dihadapi guru sekolah setiap harinya. Selain mereka harus bisa mengatasi kesulitan mengajar kelas dengan populasi besar, mereka masih harus menghadapi tugas berat dalam menilai tugas-tugas yang dihasilkan oleh murid-murid mereka setiap pekannya. Itu baru permasalah yang dihadapi oleh guru secara umum. Dalam lingkup yang lebih sempit, tuntutan pekerjaan yang dihadapi guru beraneka rupa sesuai dengan ruang tugas mereka. Guru daerah, misalnya, tidak menghadapai tekanan mental dalam mengajar murid yang jumlahnya sedikit tapi mereka menghadapi masalah dengan minimnya fasilitas mengajar belajar yang mereka miliki dalam kelas, jumlah murid yang sedikit (kadang terancam hilang), transportasi ke sekolah yang sulit (karena sekolah berada di pedalaman atau guru tinggal di sebuah pulau dan harus mengajar dengan berkililing dari satu pulau ke pulau lain) dan segudang permasalahan lainnya. Selain itu, para guru masih menghadapi pula tuntutan dari Ujian Nasional yang sudah menjadi momok setiap tahunnya. Jika murid-murid di sebuah sekolah gagal lulus UN, guru-guru yang akan biasanya menjadi sasaran tembak dari pihak-pihak di atasnya. Ya, Menteri akan menyalahkan Kepala Dinas, Kepala Dinas menyalahkan PemDa, Kepala Dinas Daerah akan menyalahkan Kepala Sekolah, dan Kepala Sekolah akan menyalahkan guru. Jadi, sudah bisa dipastikan kegiatan penelitian yang dilakukan seorang guru akan langsung terbengkalai begitu guru tersebut menghadapi tugas mempersiapkan muridnya dalam menghadapi UN.
Untuk melakukan penelitian dengan baik, guru-guru sekolah memerlukan fasilitas penelitian yang memadai, atau lebih baik lagi mendukung. Bicara soal fasilitas, tidak semua sekolah yang ada saat ini memiliki fasilitas pengajaran yang baik dan mendukung pelajaran yang baik bagi murid-muridnya. Jika fasilitas pelajaran untuk murid-murid saja tidak lengkap, bagaimanapula dengan fasilitas penelitian bagi para guru. Untuk melakukan penelitian dalam bidang Biologi, seorang guru Biologi akan memerlukan peralatan pendukung. Ketersediaan peralatan pendukung ini, seperti laboratorium, mikroskop, zat kimia, belum tentu ada di setiap sekolah dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia. Itu baru fasilitas perlatan. Sebagaimana layaknya mahasiswa, guru yang melakukan penelitian akan memerlukan pebimbing untuk menyelia penelitian yang mereka lakukan. Sudahkah terpikirkan hal ini saat memikirkan wacana untuk mengajar guru melakukan penelitian? Siapa yang akan melakukan penelitian seorang guru? Siapa yang akan mebimbingnya? Siapa yang akan membantunya apabila si guru menemui kesulitan? Selain fasilitas pebimbingan, guru juga memerlukan fasilitas dana dalam melakukan penelitian. Apa mungkin melakukan penelitan tanpa dana? Dosen-dosen di universitas saja memerlukan dana untuk melakukan penelitian, apalagi guru sekolah. Sudahkah Departemen Pendidikan Nasional memikirkan hal ini dan meyiapkan anggaran yang diperlukan? Hal ini harus diperhatikan sekali karena meminta guru untuk melakukan penelitian dengan uang pribadi dari gaji bulanan yang sudah dipotong di sana sini adalah sebuah mimpi di siang bolong.
Keraguan akan kemampuan guru dalam melakukan penelitian menjadi semakin besar karena rendahnya tingkat kesejahteraan guru Indonesia secara umum. Jika memang guru-guru di Indonesia, baik sekolah negeri ataupun swasta, sudah mendapatkan gaji secara layak, mestinya sekarang sudah tidak ada lagi cerita tentang guru yang bekerja rangkap di dua sekolah. Masih mending kalau dia bekerja di dua sekolah. Ada lagi guru yang setelah mengajar di sekolah, siangnya menyambi menjadi tukang ojek, petani, bahkan pemulung untuk sekedar mencari pendapatan tambahan. Bicara soal gaji, jangan cuma melihat gaji para guru di kota-kota besar tapi juga kota kecil yang besarnya bisa cuma 1,5 juta rupiah, bruto. Guru honorer? Yah, lebih menyedihkan lagi. Sudah bekerja 15 tahun mengabdikan diri sebagai guru, gaji mereka masih tetap jauh di bawah rekan kerjanya yang sudah menyandang status Pegawai Negeri Sipil (PNS). Masih berani meminta mereka untuk melakukan penelitian? Heh? Silahkan bermimpi karena mereka akan lebih sibuk mencari uang untuk membiayai kehidupan keluarga mereka yang menempati prioritas utama daripada tugas penelitian BRENGSEK yang dibebankan pada diri mereka. APA MASIH KURANG BAKTI YANG MEREKA BERIKAN SELAMA INI TERHADAP PUTRA PUTRI IBU PERTIWI!!!
Solusi
Usaha meningkatkan mutu dan profesionalisme guru sekolah Indonesia lewat dengan menggiatkan mereka untuk melakukan penelitian adalah sebuah hal yang baik. Hal ini sendiri sebetulnya sudah lama dilakukan oleh beberapa orang guru dalam skala yang kecil. Memang jumlah penelitian yang dihasilkan oleh para guru sekolah umum masih sedikit dan ini tidak terlepas dari permasalahan yang sudah diungkapkan di atas. Jikalau Pemerintah ingin agar mutu dan profesionalisme guru ditingkatkan, maka hal yang berkaitan dengan tuntutan pekerjaan, fasilitas penelitian, dan gaji guru haruslah dibenahi dulu. Tanpa adanya pembenahan, guru tidak akan bisa berkonsentrasi dalam melakukan penelitian. Hal tersebut penting karena tugas penelitian adalah suatu kegiatan yang akan menuntut waktu dan perhatian khusus. Selama guru masih menghadapi tuntuan pekerjaan yang berat dan banyak di sekolah dan gaji yang masih kurang sehingga mereka harus melakukan pekerjaan rangkap di dua tempat atau beberapa tempat, kewajiban penelitian akan selalu menjadi prioritas terbawah dalam kehidupan profesional dan pribadi mereka.
Janganlah hanya karena sudah pernah berdiam di luar negeri untuk kuliah SX, lantas sesudah di kampung halaman para lulusan luar negeri ini langsung berkoar-koar tentang berbagai wacana untuk meningkatkan mutu pendidikan di dalam negeri. HEI!!!! LIHAT ITU GEDUNG-GEDUNG SEKOLAH YANG MAU/SUDAH AMBRUK di berbagai pelosok daerah. Perbaiki dulu itu! BANGUN DARI TIDURMU! KELUARLAH DARI KANTORMU YANG SEJUK DAN NYAMAN UNTUK MELIHAT KENYATAAN HIDUP YANG SESUNGGUHNYA. Jangan samakan dunia pendidikan Indonesia dengan dunia pendidikan di luar negeri. Pendidikan di Eropa dan Amerika sudah maju pesat lantaran dunia pendidikan di sana telah melalui proses pengembangan yang sudah berjalan ratusan tahun! Orang-orang di luar negeri itu sudah melewati perjalanan panjang untuk membentuk budaya pendidikan dan pengajaran seperti yang kita lihat sekarang. Indonesia? Baru berapa umur negara ini?
Daripada mengharuskan guru melakukan penelitian, jauh lebih baik jika DikNas dan para pakar pendidikan giat membuat sebuah program pelatihan (workshop) teratur bagi para guru-guru di Indonesia untuk meningkatkan ketrampilan mengajar mereka. Selain itu, buat juga sebuah seminar teratur setiap tahunnya dimana para guru-guru sekolah berkumpul untuk berbagi tips dan trik dalam mengajar yang nantinya bisa dikumpulkan untuk kemudian dijadikan pedoman yang bisa disirkulasikan secara teratur dalam bentuk majalah. Contoh yang paling baik adalah majalah Forum . Kompetisi pemilihan guru teladan tingkat daerah dan nasional saat ini juga sudah baik dan harus dipertahankan untuk meningkatkan motivasi guru dalam tugas mereka.

